|
Diagnosis
|
Kriteria
|
|
Diabetes
Gula Darah Puasa
Normal
|
Gula Darah Puasa ≥126 mg/dl (≥ 7.0
mmol/L)
Glukosa Plasma Biasa ≥ 200
Glukosa Darah Puasa ≥ 110 <126
mg/dl (≥ 6,1dan < 7,0 mmol/L)
Glukosa Plasma Puasa < 110 mg/dl
(<6,1 mmol/L)
Glukosa Puasa 2 Jam Setelah Makan <
140 mg/dl (<7,8 mmol/L)
|
Friday, 11 April 2014
Diabetes Mellitus
Kriteria
Skrining dan Diagnosa Diabetes Melitus
Tiga
metode diagnosis yang digunakan untuk mendiagnosa diabetes. Bagaimanapun gula darah puasa, lebih dipilih
dalam mendiagnosa Diabetes Melitus
Diagnosis
Diabetes Melitus dan Homeostasis Glukosa
Sumber
: Mahan, L Kathleen, 2000
Salah satu dari tes berikut yang
digunakan pada tanggal kedua untuk mengkonfirmasi diagnosis.
·
Hasil gula darah puasa yang lebih besar
atau sama dengan 126 didiagnosis Diabetes. Sebelumnya nilai yang lebih besar atau sama dengan 140
diperlukan untuk diagnosis
Gejala Diabetes, gula darah pada
saat tidak puasa (. Lebih besar atau sama dengan 200“Biasa” menunjukkan waktu
yang lewat sejak makan terakhir.
·
Tes toleransi glukosa oral termasuk 75 gr glukosa dan ukuran plasma 2 jam
kemudian, bisa digunakan untuk diagnosis, dengan nilai glukosa lebih besar atau sama dengan 200 mg/dl
mengindikasikan Diabetes Melitus.
Dengan tidak ada gejala, pada
individu yang tidak terdiagnosis, testing atau skrining untu diabetes
dipertimbangkan pada individu yang berumur 45 tahun atau lebih tua. Jika hasil
tes normal, skrining diulang selama selang waktu 3 tahun. Menurut para ahli dan
klasifikasi Diabetes Mellitus. Tes dapat dilanjutkan pada individu muda apabila
terdapat indikasi :
·
Obesitas
·
Mempunyai riwayat keluarga yang berisiko
tinggi Diabetes Melitus
·
Hipertensi (Tekanan darah > 140/90
mmHg)
·
HDL kolesterol < 35 mg/dl,
trigliserida lebih 25 mg/dL.
·
Mempunyai IGT atau IFG pada tes
sebelumnya
BAB I
Latar
Belakang
Diabetes Melitus (DM) adalah suatu kumpulan gejala yang
timbul pada seseorang karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah
akibat kekurangan insulin baik absolute maupun relatif (Suyono, 2004).
Sedangkan menurut Kariadi 2009, Diabetes Melitus lebih dikenal dengan kencing
manis adalah penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa
dalam darah. Tahun 1992 lebih dari 100
juta penduduk dunia menderita Diabetes Melitus dan pada Tahun 2000 jumlahnya
meningkat menjadi 150 juta. Diperkirakan tahun 2025 akan meningkat menjadi 300
juta orang.
Tahun 2000
terdapat 8,4 juta penderita Diabetes Melitus di Indonesia dan pada tahun 2005
meningkat menjadi 12,4 juta. Hasil
penelitian yang dilakukan Departemen Kesehatan tahun 2005 didapatkan bahwa
prevalensi Diabetes Melitus sebesar 12,7% dan seluruh jumlah penduduk. Pada
tahun 2006 terdapat 14 juta orang dengan Diabetes Melitus sebesar 12,7% dari
seluruh jumlah penduduk. Pada tahun 2006 terdapat 14 juta orang dengan Diabetes Melitus dan jumlah pasien Diabetes
Mellitus rawat inap di rumah sakit, menempati urutan pertama dari seluruh
penyakit endokrin (Depkes, 2005).
Indonesia adalah negara keenam dengan jumlah penderita
diabetes terbanyak di dunia. Hasil penelitian Departemen Kesehatan yang
dipublikasikan pada Tahun 2008
menunjukkan angka prevalensi Diabetes Melitus di Indonesia sebesar 5,7%, ini berarti lebih dari 12 juta
penduduk Indonesia saat itu menderita Diabetes Melitus. Jumlah ini akan terus
meningkat menjadi 21,3 juta pada tahun 2030 (Kariadi, 2009).
Pengobatan diabetes atau yang biasa disebut pengendalian
diabetes meliputi edukasi, pengaturan makan, olahraga dan obat. Edukasi
meliputi penyuluhan atau konsultasi yang harus dilakukan berulang-ulang.
Penyuluhan atau konsultasi bertujuan untuk memberikan pengetahuan pada
penderita diabetes tentang penyakit dan pengaturan makannya yang dikenal dengan
istilah diet. Diet untuk penderita
diabetes diatur berdasarkan 3J yaitu jumlah,
jenis dan jadwal (Kariadi, 2009).
Subscribe to:
Posts (Atom)