.comments-page{ background:#fff;} #blogger-comments-page { padding: 20px; display: none;border:1px solid orange;border-radius:5px;} #fb-comments-page{border:1px solid blue;border-radius:5px;padding:20px;margin-top:10px;} .facebook-tab { float: left;cursor: pointer;margin-right:2px;border:1px solid #25729a; -webkit-border-radius: 3px; -moz-border-radius: 3px;border-radius: 3px;font-family:arial, helvetica, sans-serif; padding: 10px 10px 10px 10px; text-shadow: -1px -1px 0 rgba(0,0,0,0.3);font-weight:bold; text-align: center; color: #FFFFFF; background-color: #3093c7; background-image: -webkit-gradient(linear, left top, left bottom, color-stop(0%, #3093c7), color-stop(100%, #1c5a85)); background-image: -webkit-linear-gradient(top, #3093c7, #1c5a85); background-image: -moz-linear-gradient(top, #3093c7, #1c5a85); background-image: -ms-linear-gradient(top, #3093c7, #1c5a85); background-image: -o-linear-gradient(top, #3093c7, #1c5a85); background-image: linear-gradient(top, #3093c7, #1c5a85);filter:progid:DXImageTransform.Microsoft.gradient(GradientType=0,startColorstr=#3093c7, endColorstr=#1c5a85); } .facebook-tab:hover {border:1px solid #1c5675; background-color: #26759e; background-image: -webkit-gradient(linear, left top, left bottom, color-stop(0%,#26759e), color-stop(100%, #133d5b)); background-image: -webkit-linear-gradient(top, #26759e, #133d5b); background-image: -moz-linear-gradient(top, #26759e, #133d5b); background-image: -ms-linear-gradient(top, #26759e, #133d5b); background-image: -o-linear-gradient(top, #26759e, #133d5b); background-image: linear-gradient(top, #26759e, #133d5b);filter:progid:DXImageTransform.Microsoft.gradient(GradientType=0,startColorstr=#26759e, endColorstr=#133d5b); } .blogger-tab {float: left;cursor: pointer;border:1px solid #ffc826; -webkit-border-radius: 3px; -moz-border-radius: 3px;border-radius: 3px;font-family:arial, helvetica, sans-serif; padding: 10px 10px 10px 10px; text-shadow: -1px -1px 0 rgba(0,0,0,0.3);font-weight:bold; text-align: center; color: #FFFFFF; background-color: #ffd65e; background-image: -webkit-gradient(linear, left top, left bottom, color-stop(0%, #ffd65e), color-stop(100%, #febf04)); background-image: -webkit-linear-gradient(top, #ffd65e, #febf04); background-image: -moz-linear-gradient(top, #ffd65e, #febf04); background-image: -ms-linear-gradient(top, #ffd65e, #febf04); background-image: -o-linear-gradient(top, #ffd65e, #febf04); background-image: linear-gradient(top, #ffd65e, #febf04);filter:progid:DXImageTransform.Microsoft.gradient(GradientType=0,startColorstr=#ffd65e, endColorstr=#febf04); } .blogger-tab:hover{ border:1px solid #f7b800; background-color: #ffc92b; background-image: -webkit-gradient(linear, left top, left bottom, color-stop(0%,#ffc92b), color-stop(100%, #ce9a01)); background-image: -webkit-linear-gradient(top, #ffc92b, #ce9a01); background-image: -moz-linear-gradient(top, #ffc92b, #ce9a01); background-image: -ms-linear-gradient(top, #ffc92b, #ce9a01); background-image: -o-linear-gradient(top, #ffc92b, #ce9a01); background-image: linear-gradient(top, #ffc92b, #ce9a01);filter:progid:DXImageTransform.Microsoft.gradient(GradientType=0,startColorstr=#ffc92b, endColorstr=#ce9a01); }

Friday, 11 April 2014

Diabetes Mellitus



Kriteria Skrining dan Diagnosa Diabetes Melitus
Tiga metode diagnosis yang digunakan untuk mendiagnosa diabetes.  Bagaimanapun gula darah puasa, lebih dipilih dalam mendiagnosa Diabetes Melitus
Diagnosis Diabetes Melitus dan Homeostasis Glukosa
Diagnosis
Kriteria
Diabetes

Gula Darah Puasa
Normal
Gula Darah Puasa ≥126 mg/dl (≥ 7.0 mmol/L)
Glukosa Plasma Biasa ≥ 200
Glukosa Darah Puasa ≥ 110 <126 mg/dl (≥ 6,1dan < 7,0 mmol/L)
Glukosa Plasma Puasa < 110 mg/dl (<6,1 mmol/L)
Glukosa Puasa 2 Jam Setelah Makan < 140  mg/dl (<7,8 mmol/L)


Sumber : Mahan, L Kathleen, 2000


Salah satu dari tes berikut yang digunakan pada tanggal kedua untuk mengkonfirmasi diagnosis.
·         Hasil gula darah puasa yang lebih besar atau sama dengan 126 didiagnosis Diabetes. Sebelumnya  nilai yang lebih besar atau sama dengan 140 diperlukan untuk diagnosis
Gejala Diabetes, gula darah pada saat tidak puasa (. Lebih besar atau sama dengan 200“Biasa” menunjukkan waktu yang lewat sejak makan terakhir.
·         Tes toleransi glukosa oral termasuk  75 gr glukosa dan ukuran plasma 2 jam kemudian, bisa digunakan untuk diagnosis, dengan nilai glukosa  lebih besar atau sama dengan 200 mg/dl mengindikasikan Diabetes Melitus.

Dengan tidak ada gejala, pada individu yang tidak terdiagnosis, testing atau skrining untu diabetes dipertimbangkan pada individu yang berumur 45 tahun atau lebih tua. Jika hasil tes normal, skrining diulang selama selang waktu 3 tahun. Menurut para ahli dan klasifikasi Diabetes Mellitus. Tes dapat dilanjutkan pada individu muda apabila terdapat indikasi :
·         Obesitas
·         Mempunyai riwayat keluarga yang berisiko tinggi Diabetes Melitus
·         Hipertensi (Tekanan darah > 140/90 mmHg)
·         HDL kolesterol < 35 mg/dl, trigliserida lebih  25 mg/dL.
·         Mempunyai IGT atau IFG pada tes sebelumnya
BAB I
Latar Belakang

            Diabetes Melitus (DM) adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolute maupun relatif (Suyono, 2004). Sedangkan menurut Kariadi 2009, Diabetes Melitus lebih dikenal dengan kencing manis  adalah penyakit  yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa dalam darah. Tahun 1992 lebih dari  100 juta penduduk dunia menderita Diabetes Melitus dan pada Tahun 2000 jumlahnya meningkat menjadi 150 juta. Diperkirakan tahun 2025 akan meningkat menjadi 300 juta orang.
            Tahun  2000 terdapat 8,4 juta penderita Diabetes Melitus di Indonesia dan pada tahun 2005 meningkat  menjadi 12,4 juta. Hasil penelitian yang dilakukan Departemen Kesehatan tahun 2005 didapatkan bahwa prevalensi Diabetes Melitus sebesar 12,7% dan seluruh jumlah penduduk. Pada tahun 2006 terdapat 14 juta orang dengan Diabetes Melitus sebesar 12,7% dari seluruh jumlah penduduk. Pada tahun 2006 terdapat 14 juta orang dengan  Diabetes Melitus dan jumlah pasien Diabetes Mellitus rawat inap di rumah sakit, menempati urutan pertama dari seluruh penyakit endokrin (Depkes, 2005).
            Indonesia adalah negara keenam dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia. Hasil penelitian Departemen Kesehatan yang dipublikasikan pada Tahun 2008  menunjukkan angka prevalensi Diabetes Melitus di Indonesia sebesar   5,7%, ini berarti lebih dari 12 juta penduduk Indonesia saat itu menderita Diabetes Melitus. Jumlah ini akan terus meningkat menjadi 21,3 juta pada tahun 2030 (Kariadi,  2009).
            Pengobatan diabetes atau yang biasa disebut pengendalian diabetes meliputi edukasi, pengaturan makan, olahraga dan obat. Edukasi meliputi penyuluhan atau konsultasi yang harus dilakukan berulang-ulang. Penyuluhan atau konsultasi bertujuan untuk memberikan pengetahuan pada penderita diabetes tentang penyakit dan pengaturan makannya yang dikenal dengan istilah diet. Diet untuk penderita diabetes diatur berdasarkan 3J yaitu  jumlah, jenis dan jadwal (Kariadi, 2009).